Selasa, 24 November 2020

TM-6 Mengidentifikasi dan Mengenal Kinerja Koperasi Indonesia


1. VARIABEL   KINERJA   KOPERASI   DAN   PRINSIP   PENGUKURAN  KINERJA KOPERASI


A. Variabel Kinerja

Secara  umum,   variable  kinerja  koperasi   yang   diukur  untuk  melihat perkembangn  atau pertumbuhan (growth) koperasi diIndonesia terdiri dari  kelembagaan (jumlah  koperasi perprovinsi, jumlah  koperasi perjenis/kelompok  koperasi, jumlah  koperasi  aktif  dan  nonaktif), keanggotaan, volume usaha, permodalan, asset, dan sisa hasil usaha. 

Variabel-variable tersebut pada dasarnya belumlah dapat mencerminkan secara tepat untuk dipakai melihat  peranan atau pangsa (share) koperasi terhadap pembangunan ekonomi nasional. Demikian pula dampak dari koperasi (cooperative effect) terhadap peningkatan kesejahteraan anggota atau masyarakat belum tercermin dari variabel-variabel yang disajikan.

B. Faktor yang Mempengaruhi Kinerja

Kinerja  tidak  terjadi  dengan  sendirinya.   Dengan  kata   lain,   terdapat beberapa  faktor   yang mempengaruhi kinerja. Adapun faktor-faktor tersebut menurut Armstrong (1998 : 16-17) adalah sebagai berikut:

Faktor  individu (personal factors). Faktor  individu  berkaitan dengan  keahlian, motivasi, komitmen, dll.

Faktor kepemimpinan (leadership factors). Faktor kepemimpinan berkaitan dengan kualitas dukungan dan pengarahan yang diberikan oleh pimpinan, manajer, atau ketua kelompok kerja.

Faktor  kelompok  /  rekan  kerja (team factors). Faktor kelompok  / rekan  kerja  berkaitan dengan kualitas dukungan yang diberikan oleh rekan kerja.

Faktor sistem (system factors). Faktor system berkaitan dengan system / metode kerja yang ada dan fasilitas yang disediakan oleh organisasi.

Faktor situasi (contextual/situational factors). Faktor situasi berkaitan dengan tekanan dan perubahan lingkungan, baik lingkungan internal maupun eksternal.


C. Pengertian Pengukuran Kinerja

Pengukuran kinerja adalah proses di mana organisasi menetapkan parameter hasil untuk dicapai oleh   program, investasi,  dan  akusisi   yang  dilakukan.   Proses   pengukuran  kinerja  seringkali membutuhkan penggunaan  bukti statistik untuk  menentukan  tingkat  kemajuan suatu organisasi dalam  meraih  tujuannya. Tujuan  mendasar di balik dilakukannya  pengukuran adalah untuk meningkatkan kinerja secara umum. Pengukuran Kinerja juga merupakan hasil dari suatu penilaian yang sistematik dan didasarkan pada  kelompok  indicator  kinerja  kegiatan yang berupa  indikator-indikator  masukan,keluaran, hasil,   manfaat, dan dampak. 

Pengukuran  kinerja  digunakan  sebagai  dasar  untuk  menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. Pengukuran  kinerja  merupakan  suatu  alat  manajemen  yang  digunakan untuk  meningkatkan kualitas  pengambilan  keputusan  dan  akuntabilitas. 

Pengukuran  kinerja  juga  digunakan  untuk menilai pencapaian tujuan dan sasaran (James Whittaker, 1993) 

Sedangkan menurut Junaedi (2002 : 380-381) “Pengukuran kinerja merupakan proses mencatat dan mengukur pencapaian pelaksanaan kegiatan dalam arah pencapaian misi melalui hasil-hasil yang ditampilkan  berupa  produk, jasa, ataupun proses”. Artinya, setiap kegiatan perusahaan harus dapat diukur dan dinyatakan keterkaitannya dengan pencapaian arah perusahaan di masa yang akan datang yang dinyatakan dalam misi dan visi perusahaan. Dari definisi diatas  dapat  disimpulkan  bahwa  system  pengukuran  kinerja  adalah suatu  sistem yang bertujuan untuk membantu manajer perusahaan menilai pencapaian suatu strategi melalui alat ukur keuangan dan non keuangan. Hasil pengukuran tersebut kemudian digunakan sebagai umpan balik yang akan memberikan informasi tentang prestasi pelaksanaan suatu rencana dan titik  dimana  perusahaan memerlukan  penyesuaian-penyesuaian  atas  aktivitas  perencanaan  dan pengendalian.


D. Prinsip Pengukuran Kinerja

Dalam pengukuran kinerja terdapat beberapa prinsip-prinsip yaitu:

Seluruh aktivitas kerja yang signifikan harus diukur.

Pekerjaan   yang   tidak  diukur  atau  dinilai  tidak  dapat  dikelola karena  darinya  tidak ada informasi yang bersifat obyektif untuk menentukan nilainya.

Kerja yang tak diukur sebaiknya diminimalisir atau bahkan ditiadakan.

Keluaran kinerja yang diharapkan harus ditetapkan untuk seluruh kerja yang diukur.

Hasil keluaran menyediakan dasar untuk menetapkan akuntabilitas hasil alih-alih sekedar mengetahui tingkat usaha.

Mendefinisikan  kinerja  dalam  artian  hasil  kerja  semacam  apa yang diinginkan  adalah cara manajer dan pengawas untuk membuat penugasan kerja operasional.

Pelaporan kinerja dan analisis variansi harus dilakukan secara periodik.

Pelaporan yang kerap  memungkinkan  adanya  tindakan  korektif yang segera  dan  tepat waktu.

Tindakan korektif yang tepat waktu begitu dibutuhkan  untuk manajemen kendali yang efektif


2. KELEMBAGAAN, KEANGGOTAAN, VOLUME USAHA, PERMODALAN, ASET, DAN SHU

Tujuan dan fungsi koperasi

Sebelum membahas tujuan dan fungsi sebuah lembaga koperasi, secara garis besarnya lembaga koperasi merupakan sebuah lembaga keuangan yang berazaskan kekeluargaan dan bergotong-royong. Dan tujuannyapun tak lain untuk meningkatkan taraf ekonomi anggotanya dan masyarakat sekitar.

Terdapat 3 tujuan sebuah lembaga didirikan :

Memaksimumkan Keuntungan, sebuah lembaga harus mampu memaksimalkan keuntungan yang didapat untuk meningkatkan kualitasnya, anggota maupun sekitarnya.

Memaksimumkan Nilai Perusahaan, setelah sebuah lembaga mendapatkan keuntungan maksimal, lembaga itupun harus melaksanakan nilai-nilai yang diemban sejak didirikan.

Meminimumkan Biaya, untuk melaksanakan kedua poin tersebut sebuah lembaga harus mampu memanfaatkan resource yang ada ataupun yang terbatas untuk mengefisiensikan pelaksanaannya.


Keanggotaan Koperasi

Anggota koperasi merupakan pemilik dan juga pengguna jasa koperasi. Dalam koperasi ada pula anggota luar biasa. Dikatakan luar biasa bila persyaratan untuk menjadi anggota tidak sepenuhnya dapat dipenuhi seperti yang ditentukan dalam anggaran dasar.

Syarat Keanggotaan Koperasi :

Setiap warga negara Indonesia (WNI) yang mampu melakukan tindakan hukum atau badan hukum koperasi yang memenuhi persyaratan

Menerima landasan dan asas koperasi.

Bersedia melakukan kewajiban-kewajiban dan hak-haknya sebagai anggota.

Sifat Keanggotaan Koperasi :

Terbuka dan sukarela.

Dapat diperoleh dan diakhiri setelah syarat-syarat dalam anggaran dasar terpenuhi.

Tidak dapat dipindahtangankan.

Berakhirnya Keanggotaan Koperasi

Meninggal dunia.

Meminta berhenti karena kehendak sendiri.

Diberhentikan pengurus karena tidak memenuhi syarat keanggotaan.

Kewajiban Anggota Koperasi Tercantum dalam Pasal 20 UU No. 25 Tahun 1992 :

Mematuhi anggaran dasar dan anggaran rumah tangga serta keputusan yang telah disepakati rapat anggota.

Berpartisipasi dalam kegiatan usaha yang diselenggarakan koperasi.

Mengembangkan dan memelihara kebersamaan berdasarkan atas asas kekeluargaan.

 

Hak Anggota Koperasi Menurut Pasal 20 UU No. 25 Tahun 1992 :

Menghadiri dan menyatakan pendapat serta memberikan suara dalam rapat anggota.

Memilih dan atau dipilih menjadi anggota pengurus atau pengawas.

Meminta diadakan rapat anggota menurut ketentuan dalam anggaran dasar.

Mengemukakan pendapat atau saran kepada pengurus di luar rapat anggota baik diminta maupun tidak diminta.

Memanfaatkan koperasi dan mendapat pelayanan yang sama antaranggota.

Mendapatkan keterangan mengenai perkembangan koperasi menurut ketentuan dalam anggaran dasar.

Permintaan Menjadi Anggota Koperasi

Setiap orang yang ingin menjadi anggota koperasi perlu mempelajari lebih dahulu maksud dan tujuan koperasi tersebut, terutama mengenai syarat-syarat keanggotaan dan hak serta kewajibannya sebagai anggota.

Jika persyaratan sudah diterima, selanjutnya calon mengisi formulir pendaftaran dikoperasi tersebut.

Jika pengurus menyetujui perminyaan calon anggota, maka selanjutnya harus diberitahukan kepada yang bersangkutan mulai saat tersebut dapat diterima menjadi anggota koperasi.

Bila permohonan seseorang menjadi anggota koperasi ditolak, maka pencalonannya sebagai anggota dapat diajukan kembali dalam RA yang akan datang, dan keputusannya akan mengikat pengurus untuk memenuhinya.

Bukti Keanggotaan Koperasi

Buku daftar anggota merupakan salah satu yang ditetapkan oleh UU Koperasi, karena buku daftar anggota memuat tentang nama lengkap, umur, mata pencaharian, tempat tinggal, tanggal masuk menjadi anggota, cap ibu jari kiri atau tanda tangan anggota, sebab diberhentikannya seorang anggota, tanda tangan ketua dan tanggal dibubuhinya tanda tangan tersebut.



Permodalan Koperasi

Sumber – Sumber Modal Koperasi

A. Modal Dasar

Tujuan utama mendirikan sebuah organisasi koperasi adalah untuk mengakumulasikan potensi keuangan para pendiri dan anggotanya yang meskipun pada awalnya berjumlah kecil tetapi tetap ada.


B. Modal Sendiri

Simpanan Pokok

Simpanan pokok adalah sejumlah uang yang wajib disetorkan ke dalam kas koperasi oleh para pendiri atau anggota koperasi pada saat masuk menjadi anggota. Simpanan pokok tidak dapat ditarik kembali oleh anggota koperasi tersebut selama yang bersangkutan masih tercatat menjadi anggota koperasi.


Simpanan Wajib

Konsekwensi dari simpanan ini adalah harus dilakukan oleh semua anggota koperasi yang dapat disesuaikan besar kecilnya dengan tujuan usaha koperasi dan kebutuhan dana yang hendak dikumpulkan, arena itu akumulasi simpanan wajib para anggota harus diarahkan mencapai jumlah tertentu agar dapat menunjang kebutuhan dana yang akan digunakan menjalankan usaha koperasi.


Dana Cadangan

Dana cadangan ialah sejumlah uang yang diperoleh dari sebagian hasil usaha yang tidak dibagikan kepad anggoya; tujuannya adalah untuk memupuk modal sendiri yang dapat digunakan sewaktu-waktu apabila koperasi membutuhkan dana secara mendadak atau menutup kerugian dalam usaha.


Hibah

Hibah adalah bantuan, sumbangan atau pemberian cuma-cuma yang tida mengharapkan pengembalian atau pembalasan dalam bentuk apapun. Siapa pun dapat memberikan hibah kepada koperasi dalam bentuk apapun sepanjang memiliki pengertian seperti itu; untuk menghindarkan koperasi menjadi tergantung dengan pemberi hibah sehingga dapat mengganggu prinsip-prisnsip dan asas koperasi.


C. Modal Pinjaman

Pinjaman dari Anggota

Pinjaman yang diperoleh dari anggota koperasi dapat disamakan dengan simpanan sukarela anggota. Kalau dalam simpanan sukarela, maka besar kecil dari nilai yang disimpan tergantung dari kerelaan anggota. sebaliknya dalam pinjaman, koperasi meminjam senilai uang atau yang dapat dinilai dengan uang yang berasal dari anggota.


Pinjaman dari Koperasi Lain

Pada dasarnya diawali dengan adanya kerja sama yang dibuat oleh sesama badan usaha koperasi untuk saling membantu dalam bidang kebutuhan modal. Bentuk dan lingkup kerja sama yang dibuat bisa dalam lingkup yang luas atau dalam lingkup yang sempit; tergantung dari kebutuhan modal yang diperlukan.


Pinjaman dari Lembaga Keuangan

Pinjaman komersial dari lembaga keuangan untuk badan usaha koperasi mendapat prioritas dalam persyaratan. Prioritas tersebut diberikan kepada koperasi sebetulnya merupakan komitmen pemerintah dari negara-negara yang bersangkutan untuk mengangkat kemampuan ekonomi rakyat khususnya usaha koperasi.


Obligasi dan Surat Utang

Untuk menambah modal koperasi juga dapat menjual obligasi atau surat utang kepada masyarakat investor untuk mencari dana segar dari masyarakat umum diluar anggota koperasi. Mengenai persyaratan untuk menjual obligasi dan surat utang tersebut diatur dalam ketentuan otoritas pasar modal yang ada.


Sumber Keuangan Lain

Semua sumber keuangan, kecuali sumber keuangan yang berasal dari dana yang tidak sah dapat dijadikan tempat untuk meminjam modal.


D. Distribusi Cadangan Koperasi


Cadangan menurut UU No. 25/1992, adalah sejumlah uang yang diperoleh dari penyisihan sisa hasil usaha yang dimasukkan untuk memupuk modal sendiri dan untuk menutup kerugian koperasi bila diperlukan. Sesuai Anggaran Dasar yang menunjuk pada UU No. 12/1967 menentukan bahwa 25% dari SHU yang diperoleh dari usaha anggota disisihkan untuk Cadangan, sedangkan SHU yang berasal bukan dari usaha anggota sebesar 60% disisihkan untuk Cadangan. Banyak sekali manfaat distribusi cadangan, seperti contoh di bawah ini:

Memenuhi kewajiban tertentu

Meningkatkan jumlah operating capitalkoperasi

Sebagai jaminan untuk kemungkinan kemungkinan rugi di kemudian hari

Perluasan usaha.


Aset Dalam Koperasi

Aset adalah kekayaan yang dimiliki dan dikelola koperasi untuk menjalankan operasional usaha. Aset merupakan sumber daya yang dikuasai koperasi sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh koperasi . Aset yang diperoleh dari sumbangan, yang tidak terikat penggunaannya, diakui sebagai aset tetap.

Komponen Aset

A. Aset lancar

Aset Lancar adalah aset yang memiliki masa manfaat kurang dari satu tahun. Pengklasifikasian aset lancar antara lain :

Diperkirakan akan dapat direalisasi atau dimiliki untuk dijual atau digunakan, dalam jangka waktu siklus operasi normal entitas;

Dimiliki untuk diperdagangkan (diperjual belikan);

Diharapkan akan direalisasi dalam jangka waktu 12 bulan setelah akhir periode pelaporan.

Aset lancar meliputi komponen perkiraan:

Kas adalah nilai mata uang kertas dan logam, baik dalam rupiah maupun mata uang asing sebagai alat pembayaran sah.

Bank adalah simpanan koperasi pada bank tertentu yang likuid, seperti: tabungan, giro dan deposito serta simpanan lainnya.

Surat berharga adalah investasi dalam berbagai bentuk surat berharga, yang dapat dicairkan dan diperjualbelikan dalam bentuk tunai setiap saat;

Piutang Usaha adalah tagihan koperasi sebagai akibat penyerahan barang/jasa kepada pihak lain yang tidak dibayar secara tunai.

Piutang Pinjaman Anggota adalah tagihan koperasi sebagai akibat transaksi pemberian pinjaman (tunai/kredit berupa barang/jasa) kepada anggota.

Piutang Pinjaman Non anggota adalah tagihan koperasi sebagai akibat transaksi pemberian pinjaman (tunai/kredit berupa barang/jasa) kepada non anggota.

Penyisihan Piutang Tak Tertagih adalah penyisihan nilai tertentu, sebagai “pengurang nilai nominal” piutang pinjaman atas terjadinya kemungkinan risiko piutang tak tertagih, yang dibentuk untuk menutup kemungkinan kerugian akibat pemberian piutang pinjaman.

Persediaan adalah nilai kekayaan koperasi yang diinvestasikan dalam bentuk persediaan, baik persediaan dalam bentuk bahan baku, bahan setengah jadi, maupun barang jadi untuk diperdagangkan dalam rangka memberikan pelayanan kepada anggota dan penyelenggaraan transaksi dengan non anggota;

Biaya dibayar di muka adalah sejumlah dana yang telah dibayarkan kepada pihak lain untuk memperoleh manfaat barang/jasa tertentu.

Pendapatan Yang Masih Harus Diterima adalah berbagai jenis pendapatan koperasi yang sudah dapat diakui sebagai pendapatan tetapi belum dapat diterima oleh koperasi;

Aset Lancar Lain-lain.



B. Aset Tidak Lancar

Aset tidak lancar adalah aset yang terdiri dari beberapa macam aset, masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi, dimiliki serta digunakan dalam kegiatan operasional dengan kompensasi penggunaan berupa biaya depresiasi (penyusutan).

Aset tidak lancar meliputi komponen perkiraan:

Investasi Jangka Panjang, adalah aset atau kekayaan yang diinvestasikan pada koperasi sekunder, koperasi lain atau perusahaan untuk jangka waktu lebih dari satu tahun tidak dapat dicairkan, berupa simpanan atau penyertaan modal.

Properti Investasi, adalah properti (tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau kedua-duanya) yang dikuasai (oleh pemilik/koperasi atau lessee melalui sewa pembiayaan) dan dapat menghasilkan sewa atau kenaikan nilai atau kedua-duanya. Properti investasi tidak digunakan untuk kegiatan produksi atau penyediaan barang/jasa, tujuan administratif, atau dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari.

Akumulasi Penyusutan Properti Investasi, adalah “pengurang nilai perolehan” suatu properti investasi, sebagai akibat penggunaan dan berlalunya waktu. Akumulasi penyusutan dilakukan secara sistematis selama awal penggunaan sampai dengan umur manfaatnya.

Aset Tetap, adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam kegiatan produksi, atau penyediaan barang/jasa untuk disewakan ke pihak lain, atau untuk tujuan administratif dan digunakan lebih dari satu periode. Aset tetap mencakup perkiraan: Tanah/Hak Atas Tanah, Bangunan, Mesin dan Kendaraan, Inventaris dan Peralatan Kantor.

Akumulasi Penyusutan Aset Tetap, adalah “pengurang nilai perolehan” suatu aset tetap yang dimiliki koperasi, sebagai akibat dari penggunaan dan berlalunya waktu. Akumulasi penyusutan dilakukan secara sistematis selama awal penggunaan sampai dengan umur manfaatnya.

Aset Tidak Berwujud, adalah aset non-moneter yang dapat diidentifikasi namun tidak mempunyai wujud fisik. Dimiliki untuk digunakan dalam kegiatan produksi atau disewakan kepada pihak lain atau untuk tujuan administratif. Contoh aset tidak berwujud antara lain: hak paten, hak cipta, hak pengusaha hutan, kuota impor/ekspor, waralaba.

Akumulasi Amortisasi Aset Tidak Berwujud, adalah “pengurang nilai perolehan” suatu aset tidak berwujud yang dimiliki koperasi, sebagai akibat dari penggunaan dan berlalunya waktu.

Aset Tidak Lancar Lain, adalah aset yang tidak termasuk sebagaimana pada butir 1 sampai dengan 7 seperti bangunan yang belum selesai dibangun.




SHU (SISA HASIL USAHA)

SHU Koperasi adalah sebagai selisih dari seluruh pemasukan atau penerimaan total (total revenue) atau biasa dilambangkan (TR) dengan biaya-biaya atau biaya total (total cost) dengan lambang (TC) dalam satu tahun waktu.

SHU setelah dikurangi dana cadangan, dibagikan kepada anggota sebanding jasa usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota dengan koperasi, serta digunakan untuk keperluan pendidikan perkoperasian dan keperluan koperasi, sesuai dengan keputusan Rapat Anggota.

Besarnya pemupukan modal dana cadangan ditetapkan dalam Rapat Anggota.

Penetapan besarnya pembagian kepada para anggota dan jenis serta jumlahnya ditetapkan oleh Rapat Anggota sesuai dengan AD/ART Koperasi.

Besarnya SHU yang diterima oleh setiap anggota akan berbeda, tergantung besarnya partisipasi modal dan transaksi anggota terhadap pembentukan pendapatan koperasi.

Semakin besar transaksi(usaha dan modal) anggota dengan koperasinya, maka semakin besar SHU yang akan diterima.

Dalam proses penghitungannya, nilai SHU anggota dapat dilakukan apabila beberapa informasi dasar diketahui sebagai berikut:

SHU total kopersi pada satu tahun buku

bagian (persentase) SHU anggota

total simpanan seluruh anggota

total seluruh transaksi usaha ( volume usaha atau omzet) yang bersumber dari anggota

jumlah simpanan per anggota

omzet atau volume usaha per anggota

bagian (persentase) SHU untuk simpanan anggota

bagian (persentase) SHU untuk transaksi usaha anggota.

Rumus Pembagian SHU

MenurutUU No. 25/1992 pasal5 ayat1 :

Mengatakan bahwa “pembagian SHU kepada anggota dilakukan tidak semata-mata berdasarkan modal yang dimiliki seseorang dalam koperasi, tetapi juga berdasarkan perimbangan jasa usaha anggota terhadap koperasi. Ketentuan ini merupakan perwujudan kekeluargaan dan keadilan”.

Didalam AD/ART koperasi telah ditentukan pembagian SHU sebagai berikut: Cadangan koperasi 40%, jasa anggota 40%, dana pengurus 5%, dana karyawan 5%, dana pendidikan 5%, danasosial 5%, danapembangunanlingkungan 5%.

Tidak semua komponen diatas harus diadopsi dalam membagi SHU-nya. Hal ini tergantung dari keputusan anggota yang ditetapkan dalam rapat anggota.


Berikut prinsip-prinsip pembagian SHU koperasi:

SHU yang dibagi berasal dari anggota

SHU anngota dibayar secara tunai

SHU anggota merupakaan jasa modal dan transaksi usaha

SHU anggota ddilakukan transparan

Efesiensi Koperasi

Pada dasarnya koperasi sebagai perusahaan tidak berbeda dengan bentuk badan usaha lainnya, artinya tidak boleh dikatakan koperasi boleh bekerja secara tidak efisien untuk mencapai tujuan organisasi sebagai kumpulan orang. Pada koperasi, tingkat efisiensi juga harus dilihat secara berimbang dengan tingkat efektifitasnya. sebab biaya pelayanan yang tinggi bagi anggota diimbangi dengan keuntungan untuk memperoleh pelayanan setempat yang lebih baik, misalnya biava pelayanan dari pintu ke pintu yang diberikan oleh koperasi kepada anggotanya.

Kunci utama efisiensi koperasi adalah pelayanan usaha kepada anggotanya. Koperasi yang dapat menekan biaya serendah mungkin tetapi anggota tidak memperoleh pelayanan yang baik dapat dikatakan usahanya tidak efisian di samping tidak memiliki tingkat efektifitas yang tinggi, sebab dampak kooperatifnya tidak dirasakan anggota.

Pembahasan mengenai efisiensi, Thoby Mutis (1992) menunjukkan 5 lingkup efisiensi koperasi, yaitu efisiensi intern, efisiensi alokatif efislensi ekstern, efisiensi dinamis dan efisiensi . Pengertian efisiensi tersebut adalah:

Efislensi intern masyarakat merupakan perbandingan terbaik dari ekses biaya dengan biaya yang sebenarnya. Hal ini dapat dikaitkan dengan perbandingan nilai bersih pemasukan dan nilai bersih pengeluaran

Efisiensi alokatif adalah efisiensi yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya dan dana dari semua komponen koperasi tersebut. Misalnya, penyaluran tabungan anggota untuk pinjaman anggota, penyaluran simpanan sukarela untuk investasi jangka pan.lang dan pendek. Hal ini biasanya dilihat pada perbandingan pertumbuhan simpanan sukarela dan modal sendiri dengan pertumbuhan pinjaman, silang pinjam atau investasi tahunan. Sebagai dasar tingkat pengukuran efisiensi digunakan laporan keuangan koperasi sampel (neraca, laporan rugi laba, dan laporan perubahaan modal) di samping tentu saja data-data lain vang diperlukan seperti yang tercantum dalam laporan pertanggungjawaban pengurus.

Efisiensi ekstern menunjukkan bagaimana efisiensi pada lembaga-lembaga dan perseorangan di luar koperasi yang ikut memacu secara tidak langsung efisiensi di dalam koperasi.

Efisiensi dinamis adalah efisiensi yang biasa dikaitkan dengan tingkat optiniasi karena adanya perubahan teknologi yang dipakai. Setiap perubahan teknologi akan membawa dampak terhadap output yang dihasilkan. Tentu saja teknologi baru akan dipakai jika menghasilkan produktivitas yang lebih baik dari semula.

Efisiensi sosial sering dikaitkan dengan pemanfaatan sumber daya dan dana secara tepat, karena tidak menimbulkan biaya atau beban.

KLASIFIKASI JENIS KOPERASI

Klasifikasi jenis koperasi dapat dibedakan berdasarkan berbagai hal:

A. penggolongan koperasi berdasarkan pada ketentuan pemerintah yang diberlakukan pada koperasi. Pada penggolongan ini koperasi dibedakan sebagai berikut:

Koperasi Unit Desa (KUD). Koperasi ini diarahkan khusus untuk masyarakat pedesaan.

Koperasi Umum. Koperasi umum dapat didirikan oleh siapa saja dan dimana saja.


B. Berdasarkan banyaknya jenis usaha:

Koperasi Single Purpose. Koperasi yang hanya mempunyai satu jenis usaha.

Koperasi Multi Purpose. Koperasi yang mempunyai lebih dari satu macam jenis usaha yang dikelola secara bersamaan.


C. Koperasi dibedakan menurut jenis lapangan usaha, yaitu sebagai berikut:

Koperasi Kredit Atau Koperasi Simpan Pinjam. Koperasi yang mengelola usaha simpan pinjam seperti halnya bank.

Koperasi Produksi. Koperasi yang mengelola usaha produksi barang tertentu. Contoh: koperasi pengrajin batik, koperasi susu, dan koperasi pengusaha tahu Indonesia.

Koperasi Konsumsi. Koperasi yang mengelola usaha penjualan barang-barang konsumsi. Wujud usaha koperasi ini biasanya berbentuk toko.


D. Didasarkan pada jenis anggota:

Koperasi Primer. Koperasi yang anggotanya orang-perorang, jumlah minimal anggota koperasi ini dua puluh orang.

Koperasi Sekunder. Koperasi yang anggotanya badan hukum koperasi.


E. Koperasi didasarkan pada status anggota, yaitu sebagai berikut :

Koperasi pegawai negeri.

Koperasi petani.

Koperasi pedagang.

Koperasi nelayan.

Koperasi siswa dan koperasi mahasiswa.


3. EFISIENSI PERUSAHAAN KOPERASI

Efisiensi koperasi adalah  pelayanan usaha kepada anggotanya. Koperasi yang dapat menekan biaya serendah mungkin tetapi anggota tidak memperoleh pelayanan yang baik dapat dikatakan usahanya tidak efisien disamping tidak memiliki tingkat efektivitas yang lebih tinggi, sebab dampak kooperarifnya tidak dirasakan anggota. Untuk mengukur efisiensi organisasi dan usaha ada bebrapa rasio yang dapatdipergunakanyang didasarkan pada kergaan koperasi yang bersangkutan. Sarana yang dapat digunakan adalah neraca dan catatan keragaan lain yang dimiliki koperasi. Hal itu lah yang dapat memberikan gambaran kuantitatif tentang keragaan koperasi. Efisiensi ekonomi usaha koperasi dapat diukur dengan mempergunakan ukuran :

Efisiensi dalam operasional usaha yang terlihat dari validitas keuangan (financial viability) dan keragaan kewirakoperasian (entrepreneurship performance).

Efisiensi yang dihubungkan dengan pengembangan.

Efisiensi yang dihubungkan dengan pemenuhan kebutuhan anggota.

Ukuran kemanfatatan ekonomis adalah manfaat ekonomi dan pengukuranynya dihubungkan dengan teori efisiensi, efektivitas serta waktu terjadinya transaksi atau diperolehnya manfaat ekonomi.

Efisiensi merupakan penghematan input yang diukur denngan cara membandingkan input anggaran atau seharusnya (la) dengan input realisasi atau sesungguhnya. Dihubungkan dengan waktu terjadinya transaksi diperolehnya manfaat ekonomi oleh anggota dapat dibagi menjadi 2 jenis manfaat ekonomi yaitu :

A. Manfaat Ekonomi Langsung (MEL)

MEL adalah manfaat ekonomi yang diterima oleh anggota langsung diperoleh pada saat terjadinya transaksi antara anggota dengankoperasinya.

B. Manfaat Ekonomi Tidak Langsung

MELT adalah manfaat ekonomi yang diterima oleh anggota bukan pda saat terjadinya transaksi, tetapi diperoleh kemudian setelah berakhirnya sutu periode tertentu atau periode pelaporan keuangan/ pertangguangjawaban pengurus dan pengawas yakni penerimaan SHU anggota.

C. Manfaat ekonomi pelayanan koperasi yang diterima anggota dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :

TME =MEL +MELT

MEN = (MEL+MELT)-BA

Bagi suatu badan usaha koperasi yang melaksanakan kegiatan serba usaha (multipurposen), maka besarnya manfaat ekonomi langsung dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :


MEL =Efp+EfPK+Evs+EvP+EvPU

MELT= SHUa


4. KLASIFIKASI KOPERASI

A. Berdasarkan  pendekatan menurut tempat tinggal

Koperasi Desa. 

Koperasi desa adalah koperasi yang anggota-anggotanya terdiri dari penduduk desa yang mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dalam koperasi dan menjalankan aneka usaha dalam suatu lingkungan tertentu. Untuk satu daerah kerja tingkat desa, sebaiknya hanya ada satu Koperasi Desa, yang tidak hanya menjalankan kegiatan usaha bersifat single purpose, tetapi juga kegiatan usaha yang bersifat multi purpose (serba usaha) untuk mencukupi segala kebutuhan para anggotanya dalam satu lingkungan tertentu.

Koperasi Unit Desa (KUD).

Koperasi Unit Desa ini lahir berdasar Instruksi Presiden Republik Indonesia No.4 Thun 1973, adalah bentuk antara dari Badan Usaha Unit Desa (BUUD) sebagai suatu lembaga ekonomi berbentuk koperasi, yang pada tahap awalnya merupakan gabungan dari koperasi koperasi pertanian atau koperasi desa dalam wilayah Unit Desa, yang dalam perkembangannya kemudian dilebur atau disatukan menjadi satu KUD.

B. Berdasarkan pendekatan menurut golongan fungsional, maka dikenal jenis-jenis koperasi, misalnya ; Koperasi Pegawai Negeri (KPN), Koperasi Angkatan Darat (KOPAD), Koperasi Angkatan Laut (KOPAL), Koperasi Angkatan Udara (KOPAU), Koperasi Angkatan Kepolisian(KOPAK), Koperasi Pensiunan Angkatan Darat, Koperasi Pensiunan Pegawai Negeri, Koperasi Karyawan dan lain-lainnya.

C. Berdasarkan pendekatan sifat khusus dari aktivitas dan kepentingan ekonominya, maka dikenal jenis-jenis koperasi misalnya; Koperasi Batik, Bank Koperasi, Koperasi Asuransi, dan sebagainya.


Sumber :

https://diahpramasti.wordpress.com/2018/01/01/variabel-kinerja-dan-pengukuran-kinerja-koperasi/



TM-5 Badan Usaha Berbentuk Koperasi, Tujuan dan Nilai Perusahaan

A. Pengertian Badan Usaha

Badan Usaha atau Perusahaan adalah suatu organisasi yang mengkombinasikan dan mengorganisasikan sumber-sumber daya untuk tujuan memproduksi atau menghasilkan barang-barang atau jasa untuk dijual (Diminick Salvatore, 1989). Dalam setiap perusahaan modern, ada 4 sistem yang berinteraksi dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai perusahaan tersebut, yaitu :

Sitem keuangan/ekonomi

Sistem Teknik

Sistem organisasi dan personalia

Sistem informasi


B. Koperasi sebagai Badan Usaha

Koperasi adalah badan usaha (UU No.25 tahun 1992). Sebagai badan usaha, koperasi tetap tunduk terhadap kaidah kaidah perusahaan dan prinsip prinsip ekonomi yang berlaku. Dengan mengacu pada konsepsi sistem yang bekerja pada suatu badan usaha, maka koperasi sebagai badan usaha juga berarti merupakan kombinasi dari manusia, aset aset fisik dan nonfisik, informasi dan teknologi.

Ciri utama koperasi yang membedakan dengan badan usaha lainya (non koperasi) adalah posisi anggotanya. Dalam UU No.25 tahun 1992 tentang Perkoperasian disebutkan bahwa, anggota koperasi adalah pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi.

Badan Usaha koperasi merupakan wadah kesatuan tindakan ekonomi dalam rangka mempertinggi efisiensi dan efektifitas pencapain tujuan ekonomi individu anggotanya.


C. Tujuan dan Nilai Perusahaan

Prof William F. Glueck (1984), pakar manajemen terkemuka dari Universitas Gerogia dalam bukunya strategy Manajemen And Busssines Policy, 2nd ed, mendefinisikan tujuan perusahaan sebagai hasil terakhir yang dicari organisasi melalui eksistensi dan operasinya.

Selanjutnya, Glueck menjelaskan 4 alasan mengapa perusahaan harus mempunyai tujuan.

1. Tujuan membantu mendefinisikan organisasi dalam lingkungannya

2. Tujuan membantu mengkoordinasi keputusan dan pengambilan keputusan

- Tujuan menyediakan norma untuk menilai pelaksanaa prestasi organisasi

- Tujuan merupakan sasaran yang lebih nyata daripada pernyataan misi.

Dalam merumuskan tujuan perusahaan, perlu diperhatikan keseimbangan kepentingan dari berbagai pihak yang terlibat dalam perusahaan. Tujuan perusahaan tidak terbatas pada pemenuhan kepentingan manajemen seperti memaksimumkan keuntungan ataupun efisiensi, tetapi juga harus mempertimbangkan kepentingan pemilik, modal, pekerja, konsumen, pemasok (suppliers), lingkungan, masyarakat , dan pemerintah.



Dalam banyak kasus perusahaan bisnis, tujuan umumnya didapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

1. Memaksimumkan keuntungan

Agar konsep tujuan perusahaan ini lebih mudah dipahami, maka pendekatan yang dilakukan adalah dari aspek ekonomi manajerial (managerial economics). Seperti diketahui bahwa keuntungan (profit = P) diperoleh dari penerimaan total (total revenue = TR ) dikurangi dengan biaya total (total cost = TC). Perlu diketahui bahwa penerimaan total tergantung dari aktivitas :

Penjualan atau permintaan atas output perusahaan

Harga


2. Memaksimumkan nilai perusahaan

Nilai Perusahaan adalah nilai dari laba yang diperoleh dan diharapkan pada masa yang akan datang, yang dihitung pada masa sekarang dengan memperhitungkan tingkat resiko dan tingkat bunga yang tepat

3. Memaksimumkan biaya

Tujuan dari kegiataan perusahaan ini secara umum adalah menyangkut efisiensi atau lebih dikenal dengan meminimumkan biaya.

Dilihat sari aspek teori organisasi, tanggung jawab utama dalam meminimasi biaya terletak pada bagian produksi yang didukung oleh bagian personalia.


4. Mendefinisikan Tujuan Perusahaan Koperasi

Tujuan koperasi sebagai perusahaan atau badan usaha tidaklah semata-semata hanya pada orientasi laba (profit oriented), melainkan juga pada orientasi manfaat (benefit oriented). Karena itu, dalam banyak kasus koperasi, nmanajemen koperasi tidak mengejar keuntungan sebgai tujuan perusahaan karena mereka bekerja didasari dengan pelayanan (service at cost). Untuk koperasi di Indonesia, tujuan badan usaha koperasi adaalah memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya (UU No. 25/1992 pasal 3). Tujuan ini dijabarkan dalam berbagai aspek program oleh manajemen koperasi pada setiap rapat angggota tahunan.


5. Keterbatasan Teori Perusahaan

Tujuan perusahaan adalah untuk memaksimumkan nilai perusahaan ternyata mendapat kritik karena dinilai terlalu sempit dan tidak realistis. Beberapa Kritik dari teori tersebut adalah sebagai berikut.

Tujuan Perusahaan adalah memaksimumkan penjualan (maximization of sales). Model ini diperkenalkan oleh William banmolb yang mengatakan bahwa manajer perusahaan modern akan memaksimumkan penjualan setelah keuntungan yang diperoleh telah memadai untuk memuaskan para pemegang saham (stock holders). Berdasarkan studi empiris, ditemukan bahwa ada korelasi yang erat antara gaji dengan penjualan dan bukan anatar gaji dengan laba.

Tujuan Perusahaan adalah untuk memaksimumkan pengguanaan manajemen (maximization of managemen utility). Dalil ini diperkenalkan oleh oliver Williamson yang mengatakan bahwa sebagai akibat dari pemisahaan manajemen dengan pemilik (separation of management from ownership), para manajer lebih tertarik untuk memaksimumkan penggunaan manajemen yang diukur dengan kompensasi seperti gaji, tunjangan tambahan (fringe benefit), pemberian saham (stock option) dan sebagainya, daripada memaksimumkan keuntungan perusahaan.

Tujuan perusahaan adalah untuk memuaskan sesuatu dengan berusaha keras (satisfying behavior). Postulat ini dikembangkan oleh Herbet Simon. Didalam perusahaan modern yang sangat dan kompleks, dimana tugas manajemen menjadi sangat rumit dan penuh ketidakpastian kerana kekurangan data, maka manajer tidak mampu memaksimumkan keuntungan tapi hanya dapat berjuang untuk memuaskan beberapa tujuan yang berkaitan dengan penjualan (sales), pertumbuhan (growth), pangsa pasar(market share),dll.


6. Teori Laba

Dalam perusahaan koperasi laba disebut Sisa Hasil Usaha (SHU). Menurut teori laba, tingkat keuntungan pada setiap perusahaan biasanya berbeda pada setiap jenis industry. Terdapat beberapa teori yang menerangkan perbedaan ini sebagai berikut.

Teori Laba Menanggung Resiko (Risk- Bearing Theory Of profit). Menurut Teori ini, keuntungan ekonomi diatas normall akan doperoleh perusahaan dengan resiko diatas rata-rata.

Teori Laba Frisional (frictional Theory Of Profit). Teori ini menekankan bahwa keuntungan menigkat sebagai suatu hasil ari friksi keseimbangan jagka panjang (long run equilibrium).

Teori Laba Monopoli (Monopoly Theory Of Profits). Teori ini mengatakan bahwa beberapa perusahaan dengan kekuatan monopoli dapat membatasi output dan menekankan harga ang lebih tinggi daripada bila perusahaan beroperasi dalam kondisi persaingan sempurna. Kekuatan monopoli ini dapat diperoleh melalui :

- Pengusaan penuh atas supply bahan baku tertentu

- Skala ekonomi

- Kepemilikan hak paten

- Pembatasan dari pemerintah

Teori Laba Inovasi (innovation theory of profit). Menurut teori ini, laba diperoleh karena keberhasilan perusahaan dalam melakukan inovasi.

Teori Laba Efisiensi Manajerial (managerial efficiency theory of profit). Teori ini menekankan bahwa perusahaan yang dikelola secara efisien akan memperoleh laba diatas rata-rata laba normal.


7. Koperasi Sebagai Badan Usaha

Dalam fungsinya sebagai badan usaha, maka koperasi tetap tunduk pada prinsip-prinsip ekonomi perusahaan dan prinsip-prinsip dasar koperasi. Khusus yang menyangkut aspek pengkoperasian, ada 6 aspek dasar yang menjadi pertimbangan untuk mencapai tujuan koperasi sebagai badan usaha, yaitu 

Status dan motif anggota koperasi

Kegiatan usaha

Permodalan Koperasi

Manajemen Koperasi

Organisasi Koperasi

Sistem Pembagian Keuntungan (Sisa Hasil Usaha)

8. Kegiatan Usaha Koperasi

Kegiatan usaha koperasi didasarkan pada maksimisasi pelayanan atau pemenuhan kebutuhan ekonomi anggota. Kegiaytan pelayanan ini diharapkan depat menjadi sumber keuntungan bagi perusahaan koperasi. Untuk koperasi di Indonesia, lapangan usaha koperasi telah ditetapkan pada UU No 25/1992, pasal 43, yaitu :

Usaha koperasi adalah usaha yang berkaitan langsung dengan kepentingan anggota untuk meningkatkan bisnis dan kesejahteraannya.

Kelebihan kemampuan pelayanan koperasi dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang bukan anggota koperasi.

Koperasi menjalankan kegiatan usaha dan berperan utma di segala bidang kehidupan ekonomi rakyat.


9. Status dan Motif Anggota Koperasi

Status anggota koperasi sebagai suatu badan usaha adalah sebagai pemilik (owners) dan sekaligus pengguna (users). Sebagai pemilik, kewajiban anggota adalah melakukan investasi atau menanam modal di koperasinya.sedangkan sebagai pemakai, anggota harus menggunakan secara maksimum pelayanan usaha yang diselenggarakan oleh koperasi.

Calon anggota paling tidak harus memenuhi 2 kriketeria :

Calon anggota tersebut tidak lagi berada di bawah garis kemiskinan & memiliki potensi ekonomi. Ini berarti bahwa, calon anggota koperasi haruslah mempunyai aktivitas ekonomi.

Calon anggota koperasi harus memiliki pendapatan yang pasti, sehingga dengen demikian mereka dapat dengan mudah melakukan investasi pada usaha koperasi yang mempunyai prospek.


10. Permodalan Usaha

Modal koperasi dibituhkan untuk membiayai usaha dan organisasi koperasi. Modal usaha terdiri dari:

Modal investasi adalah sejumlah uang yang ditanam atau dipergunakan untuk pengadaan sarana operasional suatu perusahaan yang bersifat tidak mudah diuangkan (unliquid).

Modal kerja adalah sejumlah uang yang tertanan di aktifa lancar perusahaan atau yang digunakanuntuk membiyayai operasi jangka pendek perusahaan.

Prinsip-prinsip dalam perusahaan, yaitu :

Modal yang diterima sebagai pinjaman jangka pendek sebaiknya dipergunakan untuk pembiayaan modal kerja, dan

Modal yang diterima sebagai pinjaman jangka panjang dipakai untuk modal investasi.

Acuan pembahasan permodalan koperasi di Indonesia adalah UU No. 25/992 pasal 41, bab VII tentang pengkoperasian. Disbutkan bahwa modal koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman. Modal sendiri bersumber dari :

Simpanan pokok anggota, yaitu sejumlah uang yang sama banyaknya, yang wajib dibayarkan oleh masing-masing anggota kepada koperasi pada saat masuk menjadi anggota.Simpanan pokok ini sifatnya permanen, artinya tidak dapat diambil selama yang bersangkutan masih menjadi anggota.

• Simpanan wajib, yaitu sejumlah simpanan tertentu yang tidak harus sama banyaknya, yang wajib dibayarkan oleh anggota kepada koperasi pada periode tertentu. Simpanan wajib ini tidak dapat diambil selama yang bersangkutan masih menjadi anggota.

• Dana cadangan, yaitu sejumlah dana yang diperoleh dari penyisihan sisa hasil usaha dan dicadangkan untuk menutup kerugian koperasi bila diperlukan.

• Donasi atau hibah, yaitu sejumlah uang atau barang dengan nilai tertentu yang disumbangkan oleh pihak ketiga, tanpa ada suatu ikatan atau kewajiban untuk mengembalikannya.

Sedangkan modal pinjaman atau modal luar, bersumber dari :

• Anggota,yaitu pinjaman dari anggota ataupun calon anggota koperasi yang bersangkutan

• Koperasi lainnya atau anggotanya, pinjaman dari koperasi lainnya atau anggotanya yang didasari dengan perjanjian kerjasama antara koperasi

• Bank dan lembaga keuangan lainnya, yaitu pnjaman dari bank dan lembaga keuangan lainnya yang dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku

• Penerbitan dan obligasi dan surat hutang lainnya, yaitu dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi dansurat hutang lainnya berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

• Sumber lain yang sah, pinjaman yang diperoleh dari bukan anggota yang dilakukan tanpa melalui penawaran secara umum.

Sumber: https://lubnafairuz.wordpress.com/2015/01/17/koperasi-sebagai-badan-usaha/#:~:text=Koperasi%20adalah%20badan%20usaha%20(UU%20No.25%20tahun%201992).&text=Badan%20Usaha%20koperasi%20merupakan%20wadah,pencapain%20tujuan%20ekonomi%20individu%20anggotanya.


TM-4 Bentuk Organisasi, Hirarki Tanggung Jawab dan Pola Manajemen Pada Koperasi

A. Bentuk Organisasi


1. Menurut Hanel

Merupakan bentuk koperasi / organisasi yang tanpa memperhatikan bentuk hukum dan dapat didefiniskan dengan pengertian hukum

Suatu sistem sosial ekonomi atau sosial tehnik yang terbuka dan berorientasi pada tujuan. Menurut Hanel, Sub sistem koperasi  terdiri dari :

individu (pemilik dan konsumen akhir)

Pengusaha Perorangan/kelompok ( pemasok /supplier)

Badan Usaha yang melayani anggota dan masyarakat


2. Menurut Ropke :

Koperasi merupakan bentuk organisasi bisnis yang para anggotanya adalah juga pelanggar utama dari perusahaan tersebut.

Identifikasi Ciri Khusus menurut Ropke yaitu:

Kumpulan sejumlah individu dengan tujuan yang sama (kelompok koperasi)

Kelompok usaha untuk perbaikan kondisi sosial ekonomi (swadaya kelompok koperasi)

Pemanfaatan koperasi secara bersama oleh anggota (perusahaan koperasi)

Koperasi bertugas untuk menunjang kebutuhan para anggotanya (penyediaan barang dan jasa)

Sub system koperasi menurut Ropke terdiri dari:

Anggota Koperasi

Badan Usaha Koperasi

Organisasi Koperasi


3.   Di Indonesia :

Merupakan suatu susunan tanggung jawab para anggotanya yang melalui hubungan dan kerjasama dalam organisasi perusahaan tersebut.

Bentuk : Rapat Anggota, Pengurus, Pengelola dan Pengawas

Rapat Anggota,

Wadah anggota untuk mengambil keputusan

Pemegang Kekuasaan Tertinggi, dengan tugas :

- Penetapan Anggaran Dasar

- Kebijaksanaan Umum (manajemen, organisasi & usaha koperasi)

- Pemilihan, pengangkatan & pemberhentian pengurus

- Rencana Kerja, Rencana Budget dan Pendapatan sertapengesahan Laporan Keuangan

- Pengesahan pertanggung jawaban

- Pembagian SHU

- Penggabungan, pendirian dan peleburan


B. Hirarki Tanggung Jawab


1. Pengurus.

Pengurus koperasi adalah suatu perangkat organisasi koperasi yang merupakan suatu lembaga/badan struktural organisasi koperasi. Kedudukan pengurus sebagai pemegang kuasa rapat anggota memiliki tugas dan wewenang yang ditetapkan oleh undang-undang nomor 25 tahun 1992 tentang perkoperasian, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga serta peraturan lainnya yang berlaku dan diputuskan oleh rapat anggota. Dalam pasal 29 ayat 2 undang-undang nomor 25 tahun 1992 tentang perkoperasian disebutkan bahwa pengurus merupakan pemegang kuasa rapat anggota, sedang dalam pasal 30 di antaranya juga disebutkan bahwa :

Pengurus bertugas mengelola koperasi dan usahanya.

Pengurus berwenang mewakili koperasi di dalam dan di luar pengadilan.

Tugas dan kewajiban pengurus koperasi adalah memimpin organisasi dan usaha koperasi serta mewakilinya di muka dan di luar pengadilan sesuai dengan keputusan-keputusan rapat anggota. Tugas dan Kewajiban tersebut antara lain adalah :

Mengelola koperasi dan usahanya.

Mengajukan rancangan Rencana kerja, dan belanja koperasi.

Menyelenggaran Rapat Anggota.

Mengajukan laporan keuangan & pertanggung jawaban daftar anggota dan pengurus.

Wewenang.

Mewakili koperasi di dalam & luar pengadilan.

Meningkatkan peran koperasi.


2. Pengelola.

Pengelola koperasi bertugas melakukan pengelolaan usaha sesuai dengan kuasa dan wewenang yang diberikan oleh pengurus. Tugas dan tanggung jawab seorang pengelola adalah sbagai berikut :

Membantu memberikan usulan kepada pengurus dalam menyusun perencanaan.

Merumuskan pola pelaksanaan kebijaksanaan pengurus secara efektif dan efisien.

Membantu pegurus dalam menyusun uraian tugas bawahannya.

Menentukan standart kualifikasi dalam pemilihan dan promosi pegawai.


3. Pengawas.

Tugas pengawas adalah melakukan pemeriksaan terhadap tata kehidupan koperasi, termasuk organisasi, usaha-usaha dan pelaksanaan kebijaksanaan pengurus, serta membuat laporan tertulis tentang pemeriksaan. Pengawas bertindak sebagai orang-orang kepercayaan anggota dalam menjaga harta kekayaan anggota dalam koperasi. Berikut adalah tugas, dan wewenang, serta syarat menjadi Pengawas :

Tugas Pengawas.

Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan pengelolaan koperasi.

Membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasan.

Wewenang Pengawas.

Meneliti catatan yang ada pada koperasi.

Mendapatkan segala keterangan yang diperlukan.

Pengawas harus merahasiakan hasil pengawasannya terhadap pihak ketiga.

Syarat-syarat menjadi pengawas yaitu.

Mempunyai kemampuan berusaha.

Mempunyai sifat sebagai pemimpin, yang disegani anggota koperasi dan masyarakat sekelilingnya.


C. Pola Manajemen Koperasi


1. Manajemen Koperasi

Manajemen adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara mencapai tujuan dengan efektif dan efisien dengan menggunakan bantuan / melalui orang lain.

Dengan demikian Manajemen Koperasi dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan melalui usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan.Untuk mencapai tujuan Koperasi, perlu diperhatikan adanya sistim Manajemen yang baik, agar tujuannya berhasil, yaitu dengan diterapkannya fungsi-fungsi Manajemen.


2. Rapat Anggota

Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi di tata kehidupan koperasi yang berarti berbagai persoalan mengenai suatu koperasi hanya ditetapkan dalam rapat anggota. Di sini para anggota dapat berbicara, memberikan usul dan pertimbangan, menyetujui suatu usul atau menolaknya, serta memberikan himbauan atau masukan yang berkenaan dengan koperasi. Oleh karena jumlah siswa terlalu banyak, maka dapat melalui perwakilan atau utusan dari kelas-kelas. Rapat Anggota Tahunan (RAT) diadakan paling sedikit sekali dalam setahun, ada pula yang mengadakan dua kali dalam satu tahun, yaitu satu kali untuk menyusun rencana kerja tahun yang akan dan yang kedua untuk membahas kebijakan pengurus selama tahun yang lampau. Agar rapat anggota tahunan tidak mengganggu jalannya kegiatan belajar mengajar di sekolah, maka rapat dapat diadakan pada mas liburan tahunan atau liburan semester. Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi sekolah, rapat anggota mempunyai wewenang yang cukup besar. Wewenang tersebut misalnya:

Menetapkan anggaran dasar koperasi;

Menetapkan kebijakan umum koperasi;

Menetapkan anggaran dasar koperasi;

Menetapkan kebijakan umum koperasi;

Memilih serta mengangkat pengurus koperasi;

Memberhentikan pengurus; dan

Mengesahkan pertanggungjawaban pengurus dalam pelaksanaan tugasnya.

Pada dasarnya, semua anggota koperasi berhak hadir dalam rapat anggota. Namun, bagi mereka yang belum memenuhi syarat keanggotaan, misalnya belum melunasi simpanan pokok tidak dibenarkan hadir dalam rapat anggota. Ada kalanya mereka diperbolehkan hadir dan mungkin juga diberi kesempatan bicara, tetapi tidak diizinkan turut dalam pengambilan keputusan. Keputusan rapat anggota diperoleh berdasarkan musyawarah mufakat. Apabila tidak diperoleh keputusan dengan cara musyawarah, maka pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak di mana setiap anggota koperasi memiliki satu suara. Selain rapat biasa, koperasi sekolah juga dapat menyelenggarakan rapat anggota luar biasa, yaitu apabila keadaan mengharuskan adanya keputusan segera yang wewenangnya ada pada rapat anggota. Rapat anggota luar biasa dapat diadakan atas permintaan sejumlah anggota koperasi atau atas keputusan pengurus. Penyelenggara rapat anggota yang dianggap sah adalah jika koperasi yang menghadiri rapat telah melebihi jumlah minimal (kuorum). Kuorum rapat anggota meliputi setengah anggota ditambah satu (lebih dari 50%). Jika tidak, maka keputusan yang diambil dianggap tidak sah dan tidak mengikat.

Hal yang dibicarakan rapat anggota tahunan

Penilaian kebijaksanaan pengurus selama tahun buku yang lampau.

Neraca tahunan dan perhitungan laba rugi.

Penilaian laporan pengawas

Menetapkan pembagian SHU

Pemilihan pengurus dan pengawas

Rencana kerja dan rencana anggaran belanja tahun selanjutnya

Masalah-masalah yang timbul


3. Pengurus

Pengurus koperasi dipilih dari kalangan dan oleh anggota dalam suatu rapat anggota. Ada kalanya rapat anggota tersebut tidak berhasil memilih seluruh anggota Pengurus dari kalangan anggota sendiri.

Hal demikian umpamanya terjadi jika calon-calon yang berasal dari kalangan-kalangan anggota sendiri tidak memiliki kesanggupan yang diperlukan untuk memimpin koperasi yang bersangkupan, sedangkan ternyata bahwa yang dapat memenuhi syarat-syarat ialah mereka yang bukan anggota atau belum anggota koperasi (mungkin sudah turut dilayani oleh koperasi akan tetapi resminya belum meminta menjadi anggota) Dalam hal dapatlah diterima pengecualian itu dimana yang bukan anggota dapat dipilih menjadi anggota pengurus koperasi.



4. Pengawas

Pengawas dipilh oleh Rapat Anggota untuk mengawasi pelaksanaan keputusan Rapat Anggota Tahunan dan juga idiologi. Tugas pengawas tidak untuk mencari-cari kesalahan tetapi untuk menjaga agar kegiatan yang dilakukan oleh koperasi sesuai dengan idiologi, AD/ART koperasi dan keputusan RA.

Tugas, kewajiban dan wewenang pengawas koperasi sebagai berikut.

Pengawas koperasi berwenang dan bertugas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan pengelolaan organisasi.

pengawas wajib membuat laporan tentang hasil kepengawasanya dan merahasiakan hasil laporanya kepada pihak ketiga.

Pengawas koperasi meneliti catatan dan fisik yang ada dikoperasi dan mendapatkan keterangan yang diperlukan.


5. Manajer

Peranan Manajer Koperasi, Kedudukan dan fungsi sebagai pelaksana di bidang usaha dan bertanggung jawab pada pengurus koperasi.

Sebagai pelaksana dari kebijakan pengurus.

Menetapkan struktur organisasi dan manajemen koperasi serta menjamin kelangsungan usaha.

Dapat bekerja terus seiama tidak bertentangan dengan anggaran dasar dan keputusan rapat anggota, sekalipun ada penggantian pengurus.

Mengembangkan kepercayaan atas kekuatan dan kemampuan koperasi sendiri dalam kegiatan-  kegiatannya.

Dan pendapatan Sistem Koperasi.

       Sisa hasil usaha merupakan pendapatan yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurangi dengan biaya dapat dipertanggungjawabkan, penyusutan, kewajiban lainnya termasuk pajak dan zakat yang harus dibayarkan dalam tahun buku yang bersangkutan.




Kamis, 29 Oktober 2020

Review Jurnal - Analisis Kinerja Keuangan (Studi Kasus Koperasi Simpan Pinjam "RIAS" P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas)

ANALISIS KINERJA KEUANGAN

(STUDI KASUS KOPERASI SIMPAN PINJAM “RIAS” P1

MARDIHARJO) KABUPATEN MUSI RAWAS

 

Oleh:

Herman Paleni

Dosen Program Management Studies School of Economics Musi Rawas

e-mail: ermanygy@gmail.com


 

ABSTRAK 

Penelitian ini untuk mengetahui kesehatan keuangan koperasi berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia Nomor 06/Per/M.UKM/V/2006 tentang pedoman penilaian koperasi berprestasi/koperasi award pada Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas. Tipe penelitian yang dilakukan dengan Deskriptif kuantitatif. Adapun sumber data yang digunakan adalah data sekunder dengan metode time series yang berasal dari laporan keuangan berupa neraca dan laba rugi antara tahun 2010 sampai 2014. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif yaitu menganalisis laporan keuangan dengan pendekatan rasio keuangan berupa likuiditas, solvabilitas, aktivitas dan profitabilitas, kemudian disesuaikan dengan kriteria penilaian kesehatan keuangan koperasi berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia Nomor 06/Per/M.UKM/V/2006 tentang pedoman penilaian koperasi berprestasi/koperasi award. . Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia Nomor 06/Per/M.UKM/V/2006 tentang pedoman penilaian koperasi berprestasi/koperasi award, untuk kesehatan keuangan koperasi menggunakan rasio likuiditas dilihat dari current ratio termasuk kategori sehat. Secara likuiditas termasuk kategori koperasi berprestasi. Sedangkan berdasarkan rasio solvabilitas dilihat dari debt to total asset ratio termasuk kategori tidak sehat. Sedangkan dilihat dari debt to equity ratio termasuk kategori sangat tidak sehat. Secara solvabilitas termasuk kategori koperasi tidak berprestasi. Sedangkan berdasarkan rasio aktivitas menggunakan receivable turn over termasuk kategori sehat, sehingga kesehatan keuangan secara aktivitas termasuk kategori koperasi berprestasi. Untuk rasio profitabilitas dengan return on investment dan return on equity termasuk kategori kurang sehat, namun demikian untuk net profit margin termasuk kategori sehat. Dengan demikian kesehatan keuangan secara profitabilitas tidak berprestas

 

PENDAHULUAN

 

. Untuk menilai kinerja perusahaan dari aspek finansiil dapat dilakukan melalui analisis terhadap laporan keuangan perusahaan untuk memperoleh informasi mengenai apakah suatu perusahaan mempunyai tingkat kinerja atau tingkat kesehatan perusahaan yang baik, yaitu menjanjikan dan dapat mempertahankan kelangsungan usahanya (Aprilia dan Amanah, 2014:2).

Koperasi memiliki peran sebagai alat perjuangan ekonomi untuk mempertinggi kesejahteraan rakyat, sebagai alat pendemokrasian ekonomi Nasional, sebagai salah satu urat nadi perekonomian bangsa Indonesia, sebagai alat Pembina insan masyarakat untuk memperoleh kedudukan ekonomi Indonesia serta bersatu dalam mengatur tatalaksana perekonomian rakyat.

Laporan Keuangan sendiri terdiri dari neraca dan laporan perhitungan hasil usaha, melalui laporan tersebut dapat dilihat berbagai kondisi keuangan yang ada pada koperasi tersebut (Hardiningsih, dkk, 2013:2). Eksistensi Koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan anggotanya sangat mendukung perekonomian nasional maupun global. Survival Koperasi dalam kenyataannya harus didukung pula oleh sistem pengelolaan dengan manajemen yang handal, rasional efektif dan efisien sehingga kehadirannya dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Penilaian kesehatan koperasi digunakan untuk mengetahui seberapa sehat koperasi dalam melaksanakan usahanya. Untuk mengetahui keberhasilan koperasi dapat dilihat dari kinerja keuangan yang diperoleh yaitu melalui laporan keuangan. laporan yang dianalisis peneliti adalah laporan keuangan tahun 2010 sampai 2014 berupa Neraca dan Laporan Laba Rugi.

Dari neraca yang diperoleh terlihat adanya kenaikan hutang lancar pada tahun 2010 sampai 2014 serta hutang jangka panjang dari tahun 2010 sampai 2013. Penelitian mengacu Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia Nomor: 06/Per/M.UKM/V/2006 tentang pedoman penilaian koperasi berprestasi/ koperasi award.

 

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kesehatan keuangan pada Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia Nomor: 06/Per/M.UKM/V/2006 tentang pedoman penilaian koperasi berprestasi/koperasi award ditinjau dari likuiditas, solvabilitas, aktivitas dan profitabilitas?

LANDASAN TEORI 

Laporan keuangan merupakan hasil proses akuntansi, tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi kepada pihak yang membutuhkan tentang kondisi suatu perusahaan dari sudut angka-angka dalam satuan moneter.

. Ada tiga macam laporan keuangan pokok yang dihasilkan neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Aliran Kas, laporan pendukung seperti laporan laba yang ditahan, perubahan modal sendiri, dan diskusi-diskusi oleh pihak manajemen.

Kondisi keuangan yang dimaksud adalah diketahuinya berapa jumlah harta (kekayaan), kewajiban (utang) serta modal (ekuitas) dalam neraca yang dimiliki. Kemudian juga akan diketahui jumlah pendapatan yang diterima dan jumlah biaya yang dikeluarkan selama periode tertentu. Dengan demikian, dapat diketahui bagaimana hasil usaha (laba atau rugi) yang diperoleh selama periode tertentu dari laporan laba rugi yang disajikan.

Pengukuran kinerja keuangan dapat dilakukan menggunakan rasio keuangan, diantaranya rasio likuiditas, rasio salvabilitas, rasio aktivitas dan profitabilitas/rentabilitas. Dalam penelitian ini, berkaitan dengan data yang diperoleh untuk rasio aktivitas selama periode pengamatan tidak memenuhi.

 

1.      Rasio likuiditas

 

Rasio likuiditas mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek perusahaan dengan melihat aktiva lancar perusahan relative terhadap utang lancarnya (utang dalam hal ini merupakan kewajiban perusahaan). Adapun rasio likuiditas adalah menggunakan current ratio (rasio lancar).

 

·         Current Ratio atau rasio lancar

 

Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan.

Current Ratio = Aktiva Lancar (Current Asset)

Hutang Lancar (Current Liabilities)

2.      Rasio Solvabilitas

Rasio solvabilitas atau leverage ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang. Artinya berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya

Untuk mengevaluasi kinerja keuangan yang berpedoman pada Peraturan Menteri dan UKM NO.06/PER/M.KUKM/V/2006 tentang pedoman penilaian koperasi berprestasi/koperasi award. Adapun rasio solvabilitas yang digunakan adalah:


·         Debt to Asset Ratio (Debt Ratio) Debt ratio

Merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva. Dengan kata lain, seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva. Rumus untuk mencari debt ratio dapat digunakan (Kasmir, 2012:156): 

Debt to asset ratio = Total Debt

Total Asset

·         Debt to Equity Ratio Debt to equity ratio    

Merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini dicari dengan cara membandingkan antara seluruh utang, termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas.

Debt to Equity Ratio = Earning After Interest and Tax

Equity

3.    Rasio Aktivitas,

     Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya. Rasio aktivitas menggambarkan sejauh mana perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimilikinya guna menunjang aktivitas perusahaan, dimana penggunaan aktivitas ini dilakukan secara sangat maksimal dengan maksud memperoleh hasil yang maksimal. Rasio aktivitas yang digunakan adalah Rasio Perputaran Piutang (Receivable Turn Over).

Receivable Turn Over = Penjualan Kredit

Piutang


4.    Rasio Profitabilitas,

  Merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Adapun rasio profitabilitas yang digunakan adalah:

·      Return on Investment/Return on Asset ,

Pengembalian investasi atau lebih dikenal dengan nama Return on Investment (ROI) atau return on assets merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan.

Return on Investment = Earning After Interest and Tax

Total Assets

·      Return on Equity

Hasil pengembalian ekuitas atau return on equity atau rentabilitas modal sendiri merupakan rasio untuk mengukur laba bersih  sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik. Artinya posisi pemilik perusahaan semakin kuat, demikian pula sebaliknya.

Return on Equity = Earning After Interest and Tax

Equity

 

·      Net Profit Margin,

Margin laba bersih merupakan ukuran keuntungan dengan membandingkan antara laba setelah bunga dan pajak dibandingkan dengan penjualan. Rasio ini menunjukkan pedapatan bersih perusahaan atas penjualan.

Net Profit Margin = Earning After Interest and Tax

Sales


METODOLOGI PENELITIAN

laporan keuangan yang berupa Neraca dan Laba Rugi Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas dengan sampel penelitian Neraca dan Laba Rugi sebanyak lima tahun dari tahun 2010 sampai 2014.

 

Teknik Pengumpulan Data 

Metode dokumentasi berupa kumpulan data laporan keuangan yang terdiri dari neraca dan laba rugi dari tahun 2010-2014 

            Teknik Analisis Data

Peneliti menggunakan analisis kuantitatif, yaitu menganalisis data keuangan time series yang sudah ada dengan perhitungan rasio keuangan berupa rasio likuiditas menggunakan current ratio, rasio solvabilitas menggunakan debt to asset ratio dan debt to equity ratio, rasio aktivitas menggunakan receivable turn over serta rasio profitabilitas menggunakan return on investment, return on equity dan net profit margin


RASIO KEUANGAN

NILAI

KATEGORI

Rasio Likuiditas

 

 

 

200% s/d250%

Sehat

 

175% s/d < 200%

Cukup Sehat

Current Ratio

150% s/d < 175%

Kurang Sehat

 

125% s/d < 150%

Tidak Sehat

 

< 125%

Sangat Tidak Sehat

Rasio Solvabilitas

 

 

 

≤ 40%

Sehat

 

> 40 % s/d 50 %

Cukup Sehat

Debt to Asset Ratio

> 50% s/d 60 %

Kurang Sehat

 

> 60 % s/d 80 %

Tidak Sehat

 

> 80 %

Sangat Tidak Sehat

 

≤ 70 %

Sehat

 

> 70% - 100%

Cukup Sehat

Debt to Equity Ratio

> 100% s/d 150%

Kurang Sehat

 

> 150% s/d 200 %

Tidak Sehat

 

> 200 %

Sangat Tidak Sehat

Rasio Aktivitas

 

 

Tabel Pedoman Penilaian Koperasi Berprestasi/Koperasi Award

 

 

RASIO KEUANGAN

NILAI

KATEGORI

Receivable Turn Over

≤ 12 kali

Sehat

 

10 s/d < 12 kali

Cukup Sehat

 

8 s/d < 10 kali

Kurang Sehat

 

6 s/d < 8 kali

Tidak Sehat

 

< 6 kali

Sangat Tidak Sehat

Rasio Profitabilitas

 

 

 

≤ 10%

Sehat

 

7% s/d 10%

Cukup Sehat

Return on Investment

3% s/d < 7%

Kurang Sehat

 

1% s/d 3%

Tidak Sehat

 

<1%

Sangat Tidak Sehat

 

≤21%

Sehat

 

15% s/d < 21%

Cukup Sehat

Return on Equity

9% s/d <15%

Kurang Sehat

 

3% s/d < 9%

Tidak Sehat

 

<3%

Sangat Tidak Sehat

 

≤ 15%

Sehat

 

10 % s/d < 15%

Cukup Sehat

Net Profit Margin

5% s/d < 10%

Kurang Sehat

 

1 % s/d <5%

Tidak Sehat

 

<1%

Sangat Tidak Sehat


 

HASIL PENELITIAN

Hasil Perhitungan Rasio Likuiditas Menggunakan Current Ratio

 

Tabel Rekapitulasi Perhitungan Current Ratio Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas Tahun 2010-2014

Uraian

2010 (Rp)

2011 (Rp)

2012 (Rp)

2013 (Rp)

2014 (Rp)

Aset Lancar

8.720.000.000

8.835.000.000

9.185.000.000

9.260.500.000

9.390.000.000

Hutang Lancar

652.300.000

655.300.000

686.000.000

785.500.000

894.000.000

Current Ratio

1337 %

1348 %

1339 %

1179 %

1050 %

Sumber : Data diolah, 2016

 

Hasil Perhitungan Rasio Solvabilitas


Tabel Rekapitulasi Perhitungan Rasio Solvabilitas Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas Tahun 2010-2014

 

Uraian

2010 (Rp)

2011 (Rp)

2012 (Rp)

2013 (Rp)

2014 (Rp)

Penjualan Piutang

Receivable Turn Over

1.812.315.000

8.270.000.000

 

22x

1.844.695.000

6.500.000.000

 

28x

1.876.445.000

7.900.000.000

 

24x

1.929.725.000

8.600.000.000

 

22x

1.932.055.000

9.005.000.000

 

21x

 

 

 

Hasil Perhitungan Rasio Profitabilitas

 

Tabel Rekapitulasi Perhitungan Rasio Profitabilitas Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas Tahun 2010-2014

Uraian

2010 (Rp)

2011 (Rp)

2012 (Rp)

2013 (Rp)

2014 (Rp)

Sisa Hasil Usaha

347.000.000

367.200.000

372.000.000

380.000.000

396.000.000

Total Aset

9.515.500.000

9.648.500.000

10.070.000.000

10.157.500.000

10.287.000.000

Total Modal

2.451.200.000

2.511.200.000

2.532.000.000

2.750.000.000

2.863.000.000

Penjualan

1.812.315.000

1.844.695.000

1.876.445.000

1.929.725.000

1.932.055.000

Return on

4 %

4 %

4 %

4 %

4 %

Investment

 

 

 

 

 

Return on Equity

14 %

15 %

15 %

14 %

14 %

Net Profit

19 %

20 %

20 %

20 %

20 %

Margin

 

 

 

 

 

Sumber : Data diolah, 2016

 


PEMBAHASAN

Analisis Kinerja Keuangan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) “RIAS” P1

Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas Menggunakan Rasio Likuiditas

Terlihat bahwa tahun 2010-2014 current ratio yang dicapai pada Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas melebihi 250% yang artinya berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia tentang pedoman penilaian koperasi berprestasi/koperasi award termasuk kategori sehat. Dengan demikian koperasi mampu membayar kewajiban jangka pendeknya dengan setiap tahun.

 

 

Analisis Kinerja Keuangan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) “RIAS” P1

Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas Menggunakan Rasio Solvabilitas

 

Debt to Total Asset Ratio Dari perhitungan tabel.3, terlihat bahwa pada tahun 2010 sampai 2014 debt to asset ratio pada Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas berada diantara > 60% - 80% yang artinya termasuk kategori tidak sehat.


Debt to Equity Ratio Dari perhitungan tabel.3, terlihat bahwa dari tahun 2010 sampa 2014 tingkat debt to equity ratio  melebihi 200%, sehingga termasuk kategori sangat tidak sehat, yang artinya perusahaan tersebut dibiayai oleh hutang terhadap modal sendiri yang dimilikinya melebihi dua kalinya atau 200%. Menunjukkan telah berusaha sebaik mungkin mengembalikan pinjaman hutang atas pengelolaan modal yang dimilikinya, terbukti kondisi keuangan ditinjau dari solvabilitasnya termasuk kategori sangat tidak sehat. Sehingga dengan demikian secara solvabilitas tidak termasuk kategori koperasi berprestasi.


Analisis Kinerja Keuangan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) “RIAS” P1

Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas Menggunakan Rasio Aktivitas 

Dari perhitungan tabel.4, terlihat bahwa tahun 2010-2014 receivable turn over yang dicapai melebihi 12 kali yang artinya berdasarkan Peraturan Menteri Negara dan UKM Republik Indonesia tentang pedoman penilaian koperasi berprestasi/koperasi award termasuk kategori sehat. Dengan demikian koperasi mampu melakukan penagiahan-penagihan piutang dengan cepat sehingga dengan demikian secara aktivitas termasuk kategori koperasi berprestasi.

Analisis Kinerja Keuangan Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo

Kabupaten Musi Rawas Menggunakan Rasio Profitabilitas

  Retun on investment /Return on Asset, berada diantara 3% - <7%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat return on investment termasuk kategori kurang sehat. Hal ini menggambarkan bahwa keseluruhan dana yang diinvestasikan ke dalam aktiva untuk memaksimalkan laba kurang berjalan maksimal.

Rentabilitas Modal Sendiri/Return on equity, Dari perhitungan tabel. 5, pada tahun 2010 sampai 2014 return on equity berada diantara 9% - <15% yang artinya termasuk kategori kurang sehat. Hal ini menggambarkan bahwa modal koperasi setiap tahunnya tidak efisien untuk menghasilkan keuntungan atau sisa hasil usaha.

Net Profit Margin, Dari perhitungan tabel. 5, terlihat pada tahun 2010 sampai 2014, mencapai nilai diatas 15%. Dengan demikian tingkat profitabilitas termasuk kategori sehat. Hal ini menggambarkan bahwa dari setiap penjualan yang dilakukan dalam menghasilkan pendapatan bersih/sisa hasil usaha sudah efektif.

Berdasarkan hasil perhitungan rasio profitabilitas, Rawas termasuk kategori koperasi tidak berprestasi. Hal ini terbukti dari rasio profitabilitas Retun on investment /Return on Asset dan Rentabilitas Modal Sendiri/Return on equity termasuk kategori kurang sehat.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil perhitungan dan pembahasan, dengan mengacu pada Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia Nomor 06/Per/M.UKM/V/2006 tentang pedoman penilaian koperasi berprestasi/koperasi award dapat disimpulkan sebagai berikut:

·      Tingkat likuiditas pada Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas selama lima tahun dari tahun 2010-2014 dilihat dari current ratio termasuk kategori sehat. Dengan demikian berdasarkan pengukuran kesehatan kuangan secara likuiditas Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas termasuk koperasi berprestasi.

·      Tingkat solvabilitas pada Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas selama lima tahun dari tahun 2010-2014, dilihat dari debt to asset ratio termasuk kategori kurang sehat dan debt to equity ratio termasuk kategori sangat tidak sehat. Dengan demikian berdasarkan pengukuran kesehatan kuangan secara solvabilitas Koperasi Simpan Pinjam


 

 

“RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas tidak termasuk kategori koperasi berprestasi.

·      Tingkat aktivitas pada Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas selama lima tahun dari tahun 2010-2014 dilihat dari receivable turn over termasuk kategori sehat. Dengan demikian berdasarkan pengukuran kesehatan keuangan secara aktivitas Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas termasuk koperasi berprestasi.

·      Tingkat profitabilitas pada Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas selama lima tahun dari tahun 2010-2014 menggunakan return on investment dan return on equity termasuk kategori kurang sehat, dan untuk net profit margin dari tahun 2010-2014 termasuk kategori sehat. Dengan demikian berdasarkan pengukuran kesehatan kuangan secara profitabilitas Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas termasuk kategori koperasi tidak berprestasi.


Total Aset

9.515.500.000

9.648.500.000

10.070.000.000

10.157.500.000

10.287.000.000

Total Hutang

7.064.300.000

7.137.300.000

7.538.000.000

7.407.500.000

6.530.000.000

Total Modal

2.451.200.000

2.511.200.000

2.532.000.000

2.750.000.000

2.863.000.000

Debt to Asset

74 %

74 %

75 %

73 %

63 %

Ratio

 

 

 

 

 

Debt to Equity

288 %

284 %

298 %

269 %

228 %

Ratio

 

 

 

 

 

 

Sumber : Data diolah, 2016

 

Hasil Perhitungan Rasio Aktivitas Menggunakan Receivable Turn Over


Tabel Rekapitulasi Perhitungan Receivable Turn Over Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas Tahun 2010-2014

Uraian

2010 (Rp)

2011 (Rp)

2012 (Rp)

2013 (Rp)

2014 (Rp)

Penjualan Piutang

Receivable Turn Over

1.812.315.000

8.270.000.000

 

22x

1.844.695.000

6.500.000.000

 

28x

1.876.445.000

7.900.000.000

 

24x

1.929.725.000

8.600.000.000

 

22x

1.932.055.000

9.005.000.000

 

21x

Sumber : Data diolah, 2016

 

            Hasil Perhitungan Rasio Profitabilitas

 

Tabel Rekapitulasi Perhitungan Rasio Profitabilitas Koperasi Simpan Pinjam “RIAS” P1 Mardiharjo Kabupaten Musi Rawas Tahun 2010-2014


Uraian

2010 (Rp)

2011 (Rp)

2012 (Rp)

2013 (Rp)

2014 (Rp)

Sisa Hasil Usaha

347.000.000

367.200.000

372.000.000

380.000.000

396.000.000

Total Aset

9.515.500.000

9.648.500.000

10.070.000.000

10.157.500.000

10.287.000.000

Total Modal

2.451.200.000

2.511.200.000

2.532.000.000

2.750.000.000

2.863.000.000

Penjualan

1.812.315.000

1.844.695.000

1.876.445.000

1.929.725.000

1.932.055.000

Return on

4 %

4 %

4 %

4 %

4 %

Investment

 

 

 

 

 

Return on Equity

14 %

15 %

15 %

14 %

14 %

Net Profit

19 %

20 %

20 %

20 %

20 %

Margin

 

 

 

 

 

 

Sumber : Data diolah, 2016

 

 

 


 

 


Kasus Pelanggaran Perjanjian Kontrak PT Indoritel Makmur Internasional Tbk - PT IBU

Perjanjian Kontrak  Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain...